Teori Asam Basa

Posted on

Teori Asam Basa – Materi penjelasan tentang Teori Asam Basa menurut Lewis, Arrhenius dan Bronsted Lowry beserta sifat dan reaksinya secara lengkap. Jika ingin memahaminya dengan jelas, silahkan kalian simak materinya dibawah ini gaes!

Teori Asam Basa
Teori Asam Basa

Teori Asam Basa

Asam dan basa merupakan dua golongan zat kimia yang sering sekali ditemukan di sekitar kita. Contohnya, cuka, asam sitrun, dan asam pada lambung yang tergolong asam, sedangkan untuk kapur sirih dan soda api termasuk kedalam basa. Asam dan basa mempunyai sifat yang berbeda-beda.

Pada awalnya, asam dan basa dibedakan dari rasanya, di mana asam yang terasa masam sedangkan pada basa terasa pahit atau licin seperti sabun. Tetapi , secara umum zat-zat asam atau basa ini bersifat korosif dan beracun — khususnya pada bentuk larutan yang memiliki kadar tinggi — sehingga dapat berbahaya jika diuji sifatnya menggunakan metode rasa atau dirasakan.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan maupun teknologi, perbedaan pada asam dan basa bisa dibedakan memakai sebuah indikator seperti kertas lakmus dan indikator universal maupun instrumen pH meter. Larutan asam akan dapat memerahkan kertas lakmus biru, sedangkan pada larutan basa dapat membirukan kertas lakmus merah.

Untuk pengujian zat menggunakan pH meter, larutan asam akan menyatakan pH lebih kecil dari 7, sedangkan jika larutan basa akan menyatakan pH lebih besar dari 7. Namun jika larutan dengan pH sama dengan 7 disebut sebagai netral.

Sifat asam

Sebagai senyawa yang umum dan sering ditemukan disekitar kita, larutan berair asam sudah dikenal sejak lama  yang menyatakan sifat-sifat sebagai berikut :

  • Rasa asam yang khas.
  • Perubahan warna lakmus, larutan asam akan dapat memerahkan kertas lakmus biru.
  • Bereaksi menggunakan logam tertentu ketika akan menghasilkan gas H2.
  • Bereaksi dengan basa dalam membentuk wujud seperti garam dan air.

Larutan asam mempunyai pH kurang dari 7, dengan sebuah nilai pH lebih rendah sesuai pada peningkatan keasaman seperti, asam termasuk asam asetat (cuka), asam sulfat (dipakai pada baterai mobil) dan asam tartarat (dipakai pada pembuatan roti).

Sifat Basa

Berikut sifat-sifat basa dibawah ini :

  • Rasanya yang pahit.
  • Jika larut pada air, akan menghasilkan suatu ion hidroksida (OH-)
  • Perubahan warna lakmus, larutan basa dapat membirukan kertas lakmus merah.
  • Larutan basa mempunyai pH lebih dari 7. Semakin tinggi pH pada suatu zat, maka semakin kuat tingkat resistensinya.
Baca Juga :  Larutan Penyangga

Namun, apakah yang menyatakan suatu senyawa bersifat asam maupun basa? Definisi asam dan basa dapat membuat rumusan masalah untuk para ahli selama ratusan tahun. Terdapat berbagai teori definisi asam basa yang telah diajukan, ada tiga teori yang sangat bermakna, yakni teori asam basa Lewis, teori asam basa Arrhenius dan teori asam basa Bronsted–Lowry.

Teori Asam Basa Arrhenius

Teori yang satu ini pertama kali dikemukakan pada tahun 1884 oleh seorang ilmuwan yang bernama Svante August Arrhenius. Menurut Arrhenius, definisi pada asam dan basa, sebagai berikut:

  • asam merupakan suatu senyawa yang jika dilarutkan dalam air menyatakan ion H+.
  • basa merupakan suatu senyawa yang jika dilarutkan dalam air menyatakan ion OH.

Pada gas asam klorida (HCl) yang dapat larut kedalam air termasuk kedalam golongan asam Arrhenius, sebagaimana HCl bisa terurai menjadi ion H+dan Cl kedalam air. Berbeda halnya pada metana (CH4) yang bukan termasuk asam Arrhenius karena tidak bisa menghasilkan ion H+ dalam air walaupun mempunyai atom H.

Natrium hidroksida (NaOH) tergolong pada basa Arrhenius, sebagaimana NaOH adalah suatu senyawa ionik yang terdisosiasi menjadi ion Na+ dan OH ketika dilarutkan kedalam air. Konsep asam dan basa Arrhenius ini terbatas dalam kondisi air yang menjadi pelarut.

Teori Asam Basa Bronsted–Lowry

Di tahun 1923, Johannes N. Brønsted dan Thomas M. Lowry secara terpisah memberikan pengajuan definisi asam dan basa yang lebih luas. Konsep yang diajukan itu berdasarkan dari fakta bahwa reaksi asam–basa dapat melibatkan transfer proton (ion H+) pada satu zat ke zat yang lainnya.

Proses transfer proton tersebut akan selalu melibatkan asam sebagai pemberi maupun donor proton dan basa sebagai penerima atau juga akseptor proton. Jadi, definisi asam basa menurut Bronsted–Lowry, sebagai berikut :

  • asam merupakan pemberi atau donor proton.
  • basa merupakan penerima atau akseptor proton.

Jika ditinjau dalam teori Bronsted–Lowry, dalam sebuah reaksi ionisasi HCl ketika dilarutkan kedalam air, HCl mempunyai peran sebagai asam dan H2O sebagai basa.

HCl(aq) + H2O(l) → Cl(aq) + H3O+(aq)

HCl berubah menjadi sebuah ion Cl ketika memberikan suatu proton (H+) terhadap H2O. H2O akan menerima proton dengan memakai sepasang elektron bebas dalam atom O dengan berikatan dengan H+ sehingga akan terbentuk suatu ion hidronium (H3O+).

Baca Juga :  Larutan Penyangga

Sedangkan dalam reaksi ionisasi NH3 yang dilarutkan kedalam air, NH3 memiliki peran sebagai basa dan H2O sebagai asam.

NH3(aq) + H2O(l) ⇌ NH4+(aq) + OH(aq)

NH3 akan menerima proton (H+) dari H2O memakai sepasang elektron bebas dalam atom N dengan berikatan dengan H+ sehingga akan terbentuk sebuah ion ammonium (NH4+). H2O yang berubah menjadi suatu ion OH ketika memberikan proton (H+) terhadap NH3.

Pelarutan asam dan basa dalam air

Pada kedua contoh diatas terlihat bahwa (1) asam Bronsted–Lowry harus memiliki sebuah atom hidrogen yang bisa terlepas sebagai ion H+; dan (2) basa Bronsted–Lowry harus memiliki pasangan dalam elektron bebas yang bisa berikatan pada ion H+.

Kelebihan definisi menurut Bronsted–Lowry dibanding dengan definisi menurut Arrhenius ialah bisa menjelaskan reaksi-reaksi asam–basa secara detail pada fase gas, padat, cair, larutan dalam pelarut selain air, maupun campuran heterogen. Misalnya, reaksi antara gas NH3 (basa) dan gas HCl (asam) membentuk sebuah asap NH4Cl.

NH3(g) + HCl(g) → NH4Cl(s)

Beberapa zat yang bisa bertindak sebagai asam, tetapi juga bisa sebagai basa dalam reaksi yang lain, contohnya seperti H2O, HCO3, dan H2PO4. Zat tersebut yakni amfiprotik. Dalam suatu zat amfiprotik (misal H2O) akan bertindak menjadi asam jika direaksikan menggunakan zat yang lebih basa darinya (misal NH3) dan bertindak sebagai basa jika direaksikan menggunakan zat yang lebih asam lagi (misal HCl).

Teori Asam Basa Lewis

Di tahun 1923, seorang ilmuwan bernama G. N. Lewis mengemukakan teori asam basa yang lebih luas dibandingkan dengan kedua teori yang dijelaskan diatas dengan menekankan dalam suatu pasangan elektron yang berkaitan pada struktur dan ikatan. Menurut definisi asam basa Lewis, sebagai berikut :

  • asam merupakan akseptor pasangan elektron.
  • basa merupakan donor pasangan elektron.

Berdasarkan dari definisi Lewis, asam mempunyai peran sebagai spesi penerima pasangan elektron bukan hanya H+. Senyawa yang mempunyai orbital kosong dalam kulit valensi seperti BF3 juga bisa berperan menjadi asam.

Misalnya, pada reaksi antara BF3 dan NH3 yang merupakan reaksi asam–basa, di mana BF3 adalah sebuah asam Lewis dan NH3 adalah basa Lewis. NH3 dapat memberikan pasangan elektron terhadap BF3 sehingga bisa membentuk ikatan kovalen koordinasi pada keduanya.

ikatan kovalen koordinasi

Kelebihan dari definisi asam basa Lewis ini yaitu bisa menjelaskan reaksi-reaksi asam–basa lain pada jenis fase padat, gas, dan medium pelarut selain pada air yang tidak dapat melibatkan transfer proton.

Baca Juga :  Laju Reaksi

Contoh, reaksi-reaksi pada oksida asam (misal CO2 dan SO2) dengan suatu oksida basa (misal MgO dan CaO), reaksi-reaksi dalam pembentukan ion kompleksnya [Fe(CN)6]3−, [Al(H2O)6]3+, dan [Cu(NH3)4]2+, dan sebagian reaksi pada kimia organik.

Teori Asam Basa Lewis

Reaksi Asam Basa

Reaksi asam basa maupun sebagai reaksi penetralan adalah suatu reaksi zat yang melepaskan ion H+ dan basa ialah suatu zat yang melepaskan ion OH–. Kemudian akan membentuk kedalam air (H2O) yang bersifat sebagai netral.

1. Asam Arrhenius adalah suatu zat yang dilarutkan kedalam air dan dapat membentuk ion hidrogen (H+), yaitu asam yang meningkatkan konsentrasi dalam ion H+ dengan larutan air. Reaksi protonasi air bisa menghasilkan suatu ion hidronium (H3O+): H+ + H2O > H3O+

2. Asam kuat atau asam klorida adalah suatu zat yang dilarutkan kedalam air menurut dengan persamaan: HCl + H2O > H3O+ + Cl-, yaitu semua zat molekul dalam HCl akan memberi salah satu ion hidrogen dari larutan.

3. Asam lemah atau asam asetat hanya dilarutkan sebagian kedalam air menurut dengan persamaan yakni: HCH3OO + H2O > H3O+ + CH3OO-. Dalam asam lemah, tingginya larutan dapat kurang dari 1%, yaitu hanya 1 dalam 100 molekul asam asetat yang akan terlarut, sisa yang tertinggal menjadi molekul HCH3OO dalam sebuah larutannya.

4. Basa Arrhenius adalah suatu zat ketika dilarutkan kedalam air yang akan membentuk ion hidroksida (OH-), yaitu basa yang dapat meningkatkan konsentrasi dalam ion OH- terhadap larutan berair.

5. Basa kuat, misalnya seperti natrium hidroksida, yang dilarutkan kedalam air menurut persamaannya yakni: NaOH > Na+ + OH-.

6. Basa lemah, misalnya seperti larutan amoniak, sebagian saja yang terlarut kedalam air menurut persamaannya yakni : NH3 + H2O > NH4+ + OH-. Dalam asam lemah, tingginya pelarutsn dapat kurang dari 1%, yaitu hanya 1 dalam 100 molekul amoniak yang bereaksi dengan air, sisa yang tertinggal menjadi molekul NH3 dalam larutannya.

Demikian penjelasan materi tentang Teori Asam Basa menurut Lewis, Arrhenius dan Bronsted Lowry. Semoga materi diatas bisa bermanfaat bagi kita semua.

Baca Juga :